‘ku tak tahu ada apa…
saat mendung menudung
ucapanmu menggeledak, mengalahkan gemuruh riuh petir
seakan semua itu pernah terjadi
kuhela nafas berat
ternyata diujung jalan, bersama senja yang kesekian
senda gurauanmu menepi…
kembali anganku menikung
menyisir kenangan silam
kapan dan akankah kita dapat bertemu…
jika lorong waktu yang kau cipta kini buntu…?!
disini aku menjemput maafmu tak cukup waktu
lihatlah kuulur tangan tanda kumasih sayang
“Antara tirai bambu dan ranah pertiwi,
hatiku dirantai digelangi rindu”







0 komentar:
Posting Komentar