angin menghembus ulam jantungku
berkabut dan meneteskan embun dukaku
namun aku tetap tersenyum
berkabut dan meneteskan embun dukaku
namun aku tetap tersenyum
walau jantungku berdetak tak beratur
menggebu dan perlahan tak terdengar detaknya
namun aku tetap tersenyum
menggebu dan perlahan tak terdengar detaknya
namun aku tetap tersenyum
angin telah membawa aroma tubuhmu
jauh hingga ke sudut-sudut kota tua ini
namun aku tetap tersenyum
jauh hingga ke sudut-sudut kota tua ini
namun aku tetap tersenyum
tak bolehkah aku jatuh cinta
walau cintaku ini adalah cinta platonik
tak bolehkah aku jatuh cinta
padahal cintaku ini berselimut suka cita
pahamkah engkau: walau cintakuku ini ’kan melintas sahara
namun aku tetap tersenyum
walau cintaku ini adalah cinta platonik
tak bolehkah aku jatuh cinta
padahal cintaku ini berselimut suka cita
pahamkah engkau: walau cintakuku ini ’kan melintas sahara
namun aku tetap tersenyum
lihatlah mataku
walau letih dan tak berair mata lagi
namun aku tetap tersenyum
walau letih dan tak berair mata lagi
namun aku tetap tersenyum
bolehkah aku jatuh cinta
walau cintaku ini adalah cinta terakhirku
walau tak ada yang peduli
walau kau pergi
walau semua pergi
dan aku kesepian
namun aku tetap tersenyum
dan berharap besok malam kau mengetuk pintu rumahku
tersenyum
tersenyum
tersenyum
walau cintaku ini adalah cinta terakhirku
walau tak ada yang peduli
walau kau pergi
walau semua pergi
dan aku kesepian
namun aku tetap tersenyum
dan berharap besok malam kau mengetuk pintu rumahku
tersenyum
tersenyum
tersenyum







0 komentar:
Posting Komentar